sedihku tak berujung T_T
setelah ku berlalu dari hidupmu
dalam kata sesal yg tak terucap
ku daki gunung yang tinggi
ku lalui gelapnya malam,terangnya siang
hanya untuk mengungkap sesalku atasmu
tapi,,,kaki ku kini tak bisa melangkah tuk menuju kearahmu
tapi,,,telingaku kini tuli tuk mendengar kata sayangmu
tapi,,,mulutku kini bisu tuk menyebut namamu
tapi,,,ingatkah kau tentang kerinduan yg tak terbaca
tentang cinta yg kau puja sejagat raya
aku,,aku dalam sendiriku
aku,,aku dlm toreh yg menyayat
aku,,aku dlm telaga air mata yg ku sangka taman syorga
aku dlm kebodohan yg nyata,,,
meninggalkanmu dalam cinta ,,mengejar patamorgana
jangan dulu berpikir sinis
apakah hati yang tertanam dalam tubuh ini berlapis?
sehingga dapat diganti di saat-saat waktu yang kritis,
tak peduli iblis-iblis menyerang dan sulit di tepis,
apakah tulus terukir seperti corak pada sebilah keris?
jika benar keburukan dapat di lihat dari segi paras,
kerasnya dunia tak cukup di tulis di selembar kertas,
arus yang deras terus menghempas karang yang begitu keras,
siapakah saja orang-orang yang pantas?
aku dan kau bukan terpisah di tengah-tengah ranjau,
masalah yang berlalu jadikan masa lampau.
di bawah langit aku bersimpuh
memohon bak musafir yang tengah tersesat di gurun nan gelap
aku berharap setetes embun cinta akan ia berikan seolah-olah aku mengharap setetes air di gurun tandus
semoga sang gadis itu mendengar isi hatiku yang tengah terpanah dewi asmara..
aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini, misalnya, menulis “malam penuh bintang dan bintang bintang itu, biru, menggigil di kejauhan,
angin malam berkelit di langit sambil bernyanyi.”
aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini. aku pernah mencintainya dan kadang-kadang dia pernah mencintaiku juga.
di malam-malam seperti ini, aku rangkul dia dalam pelukan.
aku ciumi dia berkali kali di bawah langit tak berbatas.
dia pernah mencintaiku, kadang-kadang aku pun mencintainya.
bagaimana mungkin aku tak akan mencintai matanya
yang besar dan tenang itu?
aku bisa saja menulis puisi paling sedih malam ini karena aku tak memilikinya. karena aku kehilangan dia.
karena malam begitu mencekam, begitu mencekam tanpa dirinya.
dan puisiku masuk dalam jiwa seperti embun pada rumputan.
tak apa kalau cintaku tak bisa di sini menahannya.
malam penuh bintang dan tak ada di sini dia.
begitulah.
di kejauhan, seseorang menyanyi di kejauhan.
jiwaku mati kini tanpa dia.
karena ingin menghadirkannya di sini, mataku mencarinya.
hatiku mencarinya dan tak ada di sini dia.
malam yang itu itu juga, yang membuat putih
pohonan yang itu itu juga.
kami, yang dulu satu, tak lagi satu kini.
aku tak lagi mencintainya, benar tapi betapa cintanya aku dulu padanya. suaraku menggapai angin hanya untuk
menyentuh telinganya.
milik orang lain. dia akan jadi milik orang lain.
seperti dia dulu milik ciuman ciumanku.suaranya,
tubuhnya yang kecil.
matanya yang memandang jauh.
aku tak lagi mencintainya, benarkah? tapi mungkin aku mencintainya.
cinta begitu pendek dan memori begitu singkat.
karena di malam malam seperti ini dulu aku rangkul
didalam pelukan, jiwaku mati kini tanpa dirinya.
mungkin ini luka terakhir yang dibuatnya, dan ini
puisi terakhir yang kutulis untuknya…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar