Metroseksual merupakan salah satu bagian dari masyarakat yang tercipta
akibat dari pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, mereka adalah tren
pria di daerah perkotaan masa kini. Bukan lagi pria yang macho, berotot, gagah
perkasa dan berwajah garang. Setidak-tidaknya itulah wacana yang berkembang
akhir-akhir ini. Metroseksual bukanlah penggambaran laki-laki yang
keperempuan-perempuanan alias banci atau waria, tetapi pria yang mencintai
dirinya sendiri untuk menemukan kepuasan tersendiri di dalam dirinya.
Mulanya tren ini hanya menjangkiti para model pria, artis, orang-orang
media, eksekutif muda dan pengacara, tetapi kini perilaku metroseksual terus
merambah ke semua elemen dan lapisan masyarakat tak terkecuali mahasiswa.
Mahasiswa metroseksual merupakan sebuah fenomena baru yang terjadi di kotakota
besar di Indonesia khususnya daerah Yogyakarta. Kecintaan fanatik
terhadap dirinya sendiri telah merubah gaya hidup dan perilaku dalam kehidupan
mereka.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya hidup dan
perilaku konsumtif mahasiswa metroseksual di lingkungan kampus Universitas
Gadjah Mada. Penelitian ini mengambil lokasi di dalam lingkungan kampus
Universitas Gadjah Mada Bulak Sumur Yogyakarta. Unit kajian dalam penelitian
ini adalah mahasiswa metroseksual yang menurut ciri-ciri dan kategori
dimasukkan sebagai pria metroseksual, serta masih tercatat aktif sebagai
mahasiswa. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan
merupakan penelitian deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive
atau bertujuan. Informan yang diambil sebanyak 10 orang secara acak yang
kesemuanya merupakan mahasiswa UGM.
A Latar Belakang Masalah
Siapa bilang urusan dandan dan belanja hanyalah monopoli kaum wanita.
Kini, para pria pun tak mau kalah. Bahkan, makin hari keberadaan pria
metroseksual ini semakin kental yang pada akhirnya turut merambah ke pola dan gaya hidup mahasiswa. Pola hidup yang mencintai diri sendiri, selalu menjaga
penampilan, gemar bergaul serta mengikuti tren ini pun, kini makin banyak diikuti
para pria di Indonesia. Kalau dulu orang pergi ke salon hanya untuk potong
rambut, menata rambut atau merias wajah dan menata rambut pada saat acara
resmi, misalnya pernikahan dan wisuda, maka sekarang orang pergi ke salon
dengan berbagai macam tujuan. Ada orang yang pergi ke salon karena ingin
rambutnya dicreambath, mengecat rambut (bukan hanya mengecat rambut dengan
warna hitam supaya uban tidak terlihat, namun mengecat rambut dengan berbagai
warna yang terkadang sangat mencolok), cuci muka atau facial, lulur seluruh
badan, pijat dan refleksi, sampai dengan melakukan perawatan khusus tangan dan
kaki yang disebut manicure dan pedicure.
Agaknya fenomena ini tak lepas dari booming industri kecantikan dan
fesyen yang tak lagi puas dengan persaingan yang ketat memperebutkan pasar di
dunia perempuan, lalu merambah ke pasar kaum lelaki. Sebenarnya cap
metroseksual diberikan hanya untuk kepentingan kapitalis. Semakin banyak yang
ingin tampil metroseksual maka mereka menjadi semakin konsumtif. Jika
sebelumnya wanita yang dianggap konsumtif, kenapa tidak melebarkan pasar
kepada para pria dengan iming-iming tersebut, apalagi di kota Yogyakarta yang
notabene merupakan kota pelajar, sehingga lebih mudah mempengaruhi gaya dan
pola hidup metroseksual para pelajar dan mahasiswa terutama di lingkungan
kampus UGM yang memiliki jumlah mahasiswa terbesar di indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar